May 8, 2026
Evo5-clean

Halo, para pencari sensasi, pecinta over fender lebar, dan mereka yang selalu deg-degan melihat mobil berwarna kuning melintas!

Kembali lagi di blog kesayangan kita. Sebelumnya, kita sudah mengupas Evo I sampai Evo IV. Dari yang polos, lalu agresif, hingga pintar dengan AYC. Tapi kali ini… mari kita bicara soal keberanian.

Keberanian Mitsubishi untuk melanggar aturan. Keberanian untuk membuat mobil yang terlihat seperti haram di jalan raya. Keberanian untuk mempersembahkan yang terbaik bagi Tommi Mäkinen dalam merebut gelar juara dunia.

Tahun 1998. Dunia baru saja selesai beradaptasi dengan Evo IV yang canggih. Tiba-tiba Mitsubishi berkata, “Belum cukup. Kami mau lebih lebar, lebih garang, dan lebih stabil.”

Selamat datang di era Mitsubishi Lancer Evolution V.

Siapkan minuman favorit Anda, buka jendela sedikit agar angin malam masuk (supaya suasana balap terasa), dan mari kita bedah monster ini. Gaya bercerita… kali ini agak nakal, tapi tetap rapi. Yuk, mulai!

Kenapa Evo V Lahir? Karena Evo IV Masih “Sempit”

Jujur saja. Evo IV adalah mobil yang brilian. Tapi ada satu keluhan dari tim reli dan para pembalap mobilnya masih terlalu sempit untuk ban yang lebih lebar.

Aturan homologasi WRC mengizinkan pelebaran fender hingga batas tertentu. Evo IV sudah memanfaatkannya, tapi Mitsubishi merasa masih ada ruang untuk lebih agresif. Mereka ingin mobil yang tampilannya seperti “tidak boleh ada di jalanan umum” – tapi tetap legal.

Lalu, bagaimana caranya? Sederhana Buat mobil lebih lebar dari generasi sebelumnya, beri ban lebih lebar, perkuat suspensi, dan naikkan tenaga tanpa melanggar gentleman agreement 280 HP (iya, kami tahu rahasianya).

Hasilnya? Evo V. Mobil yang membuat Subaru Impreza 22B (yang juga legendaris) harus berpikir dua kali.

“Permisi, Ini Mobil Jalanan atau Pesawat Tanpa Sayap?”

Coba bayangkan. Anda sedang duduk di kafe. Sebuah mobil berwarna kuning metalik (warna ikonik Evo V) masuk ke area parkir. Hal pertama yang Anda lihat:

OVER FENDER. LEBAR. GILA.

Evo V memiliki pelebaran ban (over fender) yang sangat ekstrem dibanding Evo IV. Lebar lintasan depan dan belakang ditambah hingga 50 mm lebih lebar di setiap sisi. Hasilnya? Mobil terlihat seperti sedang jongkok siap menerkam.

Tapi tunggu, masih ada lagi:

  • Bumper depan didesain ulang dengan bukaan lebih besar dan bentuk lebih tajam.
  • Spoiler belakang kini memiliki sayap karbon yang dapat diatur sudutnya (adjustable) – ya, seperti mobil balap sungguhan.
  • Kap mesin dengan ventilasi tambahan di sisi kanan untuk pendinginan turbo yang lebih baik.
  • Lampu kabut bulat besar khas Evo IV tetap dipertahankan, tapi posisinya sedikit berubah.
  • Pelek ukuran 17 inci (naik dari 16 inci) dengan ban 225/45ZR17 – sangat lebar untuk ukuran mobil tahun 1998.

Desain Evo V tidak elegan. Tidak mewah. Tapi mengancam. Mobil ini terlihat seperti hooligan bertopi balap yang siap mengacak-acak aspal.

Jantung Masih 4G63, Tapi Kali Ini… Sedikit Nakal

Mesin masih 4G63 2.0 liter turbo. Tenaga resmi masih 280 HP (karena kesepakatan pabrikan Jepang). Tapi semua orang tahu itu hanya angka di kertas. Di dunia nyata, Evo V memiliki lebih dari 300 HP.

Mitsubishi melakukan beberapa modifikasi penting:

  1. Turbocharger TD05HR-16G6 dengan desain baru yang lebih efisien.
  2. Intercooler lebih besar dan posisi intake manifold didesain ulang.
  3. Injektor lebih besar (510 cc) untuk aliran bahan bakar lebih deras.
  4. Exhaust manifold model twin-scroll yang lebih halus.
  5. Pendinginan oli yang ditingkatkan.

Torsi resmi naik menjadi 373 Nm (dari 360 Nm di Evo IV). Tapi jangan percaya angka itu. Di atas kertas, mobil ini terasa seperti mempunyai tenaga yang lebih besar dari 300 HP.

Apa akibatnya? Evo V bisa melesat 0-100 km/jam dalam waktu sekitar 4,5 detik (tergantung kondisi). Kecepatan maksimal di atas 240 km/jam. Dan yang lebih penting tenaga keluar lebih halus di putaran bawah, tapi eksplosif di putaran tengah hingga atas.

Teknologi AYC Disempurnakan, Suspensi Diperkuat

Salah satu kelemahan Evo IV di reli adalah sistem AYC (Active Yaw Control) generasi pertama yang masih agak “kaget-kaget” di tikungan ekstrem. Mitsubishi memperbaikinya di Evo V dengan:

  • AYC generasi kedua – respons lebih cepat dan lebih halus.
  • Active LSD di depan (pada beberapa varian) untuk traksi lebih baik.
  • Suspensi depan dan belakang diperkuat dengan komponen yang lebih rigid.
  • Rem yang lebih besar – cakram depan 17 inci dengan kaliper 4 piston Brembo (warna merah ikonik mulai muncul di sini).

Hasilnya? Evo V masuk tikungan seperti roller coaster yang tidak pernah lepas dari rel. Anda bisa berani masuk lebih cepat, berani memotong apex lebih tajam, dan keluar tikungan dengan tenaga penuh tanpa rasa takut.

Para jurnalis otomotif di tahun 1998 memuji Evo V sebagai mobil penggerak semua roda terbaik di dunia untuk jalanan umum. Tidak ada lawan yang sebanding, kecuali mungkin Subaru Impreza 22B yang juga sama gilanya.

Varian GSR (Lengkap) vs RS (Ringan, Tanpa AYC)

Seperti generasi sebelumnya, Evo V hadir dalam dua rasa:

GSR – Untuk yang ingin performa balap dengan kenyamanan. Sudah dilengkapi AYC generasi kedua, AC, power window, jok Recaro, audio, peredam suara, dan rem Brembo (standar untuk GSR). Bobot sekitar 1.360 kg. Ini mobil yang bisa dipakai harian sekaligus gila di sirkuit.

RS – Untuk yang serius balap. Tanpa AYC (opsional), tanpa AC (opsional), tanpa power window, jok biasa, peredam suara minimal, dan rem lebih kecil (opsional Brembo). Bobot lebih ringan, sekitar 1.260 kg. Beberapa unit RS bahkan tidak memiliki power steering. Ini murni untuk reli.

Menariknya, Evo V RS tanpa AYC lebih ringan dan lebih mudah dirawat. Banyak tim reli swasta memilih RS daripada GSR karena alasan keandalan di medan ekstrem.

Prestasi Reli Tommi Mäkinen Juara Dunia Lagi!

Evo V debut di Kejuaraan Reli Dunia (WRC) tahun 1998. Hasilnya? Luar biasa.

Tommi Mäkinen meraih gelar Juara Dunia WRC Driver Championship untuk tahun ketiga berturut-turut (1996 dengan Evo IV, 1997 dengan Evo IV/V, dan 1998 dengan Evo V). Ini adalah puncak kejayaan Mitsubishi di reli dunia.

Beberapa kemenangan penting Evo V:

  • Reli Swedia 1998
  • Reli Finlandia 1998 (sirkuit tanah super cepat)
  • Reli San Remo 1998 (aspal)

Evo V juga mengukuhkan reputasi Mitsubishi sebagai pabrikan dengan mobil reli paling stabil dan paling cepat di tikungan.

Mengapa Evo V Begitu Istimewa?

Di antara semua generasi Lancer Evolution, Evo V memiliki tempat spesial di hati kolektor karena:

  1. Desain paling ekstrem untuk ukuran jalanan. Over fender lebar, spoiler adjustable, warna kuning ikonik – semuanya berpadu sempurna.
  2. Ia adalah Evo pertama dengan rem Brembo standar (di GSR) dan pelek 17 inci.
  3. Jumlah produksi terbatas – hanya sekitar 6.000 unit untuk seluruh dunia, termasuk versi GSR dan RS.
  4. Ia adalah mobil yang membantu Tommi Mäkinen meraih gelar juara dunia ketiga – sebuah pencapaian bersejarah.
  5. Kurangnya fitur elektronik modern membuatnya terasa murni dan liar, tapi tetap bisa dikendalikan.

Hari ini, Evo V original (apalagi versi kuning metalik dengan stiker Mitsubishi Ralliart asli) adalah mobil impian kolektor internasional. Di Jepang, harga mencapai 5–8 juta yen tergantung kondisi. Di Indonesia? Siapkan uang di atas Rp1,2 miliar. Dan itupun jika Anda bisa menemukan unit yang masih utuh.

Evo V vs Subaru Impreza 22B – Perang Dingin yang Legendaris

Tidak lengkap rasanya membahas Evo V tanpa menyebut musuh bebuyutannya. Subaru Impreza 22B STi.

Diluncurkan di tahun yang sama (1998), 22B memiliki over fender yang juga lebar, mesin 2.2 liter turbo (tidak umum di Jepang), dan tenaga sekitar 280 HP resmi (tapi nyata di atas 300 HP). Keduanya sama-sama langka, sama-sama ikonik, dan sama-sama gila.

Pertanyaannya mana yang lebih baik?

Jujur, sulit menjawab. Evo V lebih canggih dengan AYC-nya, sementara 22B lebih tradisional dengan diferensial mekanik. Evo V lebih ringan di depan karena mesinnya diputar 180 derajat, sementara 22B memiliki suara boxer khas yang menggelegar.

Yang jelas, kedua mobil ini adalah puncak persaingan Jepang di era keemasan reli. Dan kita beruntung bisa menyaksikannya (walaupun dari jauh, melalui layar kaca atau game balap).

Nah, para pembaca yang selalu setia menemani perjalanan Evo dari generasi ke generasi.

Jangan lupa share artikel ini ke grup JDM, grup Mitsubishi, atau ke teman Anda yang masih ngiler melihat Evo V di Instagram.

Sampai jumpa di artikel berikutnya – Evo VI, di mana Tommi Mäkinen meraih gelar juara dunia keempat dan mobil ini menjadi ikon dunia berkat film dan game balap. Siap-siap untuk warna merah dan stiker Marlboro yang LEGENDARIS!

Salam dari dunia di mana ban 225/45R17 masih terasa lebar dan bensin masih ada yang leaded.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *