Halo, para pecinta kopling dan juga… para pecinta kenyamanan perkotaan!
Selamat datang kembali di blog kita tercinta. Sebelumnya, kita sudah membahas Evo VII yang kontroversial dengan platform barunya. Tapi di episode kali ini, saya ingin ajak Anda membahas sebuah keputusan berani sekaligus aneh dari Mitsubishi.
Keputusan yang membuat sebagian penggemar Evo mengangkat alis hingga ke langit-langit. Keputusan yang membuat mereka bertanya, “Evo masa ada yang matik? Serius?!”
Ya, serius.
Tahun 2002. Mitsubishi meluncurkan Mitsubishi Lancer Evolution VII GT-A. Evo dengan transmisi otomatis. Bukan semi-otomatis. Bukan dual-clutch. Tapi otomatis konvensional 5-percepatan dengan paddle shift.
Apakah ini penghianatan terhadap DNA Evo? Atau justru langkah cerdas untuk menjangkau pasar yang lebih luas?
Mari kita bedah bersama. Siapkan minuman kesukaan Anda, buka jendela sedikit agar angin masuk (biar terasa seperti sedang touring santai dengan Evo otomatis), dan mari kita mulai. Gaya cerita kali ini… seperti sedang membela teman yang sering di-bully. Yuk!
Mengapa Mitsubishi Membuat Evo Otomatis?
Sebelum kita hakimi, mari kita pahami dulu konteksnya.
Tahun 2002. Pasar mobil sport Jepang mulai berubah. Tidak semua orang ingin setiap hari berperang dengan kopling berat di kemacetan Tokyo atau Osaka. Banyak eksekutif muda yang ingin merasakan sensasi Evo tanpa harus pusing menginjak kopling macet-macetan.
Subaru sudah lebih dulu meluncurkan Impreza WRX dengan transmisi otomatis (meskipun performanya jauh di bawah manual). Mitsubishi pun berpikir, “Mengapa tidak?”
Maka lahirlah Evo VII GT-A – singkatan dari Gran Turismo-Automatic. Nama yang terdengar mewah dan sopan, tapi jangan salah, mobil ini tetap memiliki DNA ganas di balik transmisi otomatisnya.
Apakah sukses? Di pasar Jepang, lumayan. Di ekspor? Kurang laku. Tapi hari ini, GT-A menjadi barang langka yang justru mulai diburu kolektor karena keunikannya.
Sama Tampangnya, Tapi Ada Detail yang Berbeda
Secara visual, Evo VII GT-A hampir identik dengan Evo VII GSR manual. Tapi jika Anda jeli, ada beberapa perbedaan:
- Pelek – GT-A menggunakan pelek Enkei 17 inci dengan desain eksklusif yang sedikit berbeda dari GSR.
- Lambang “GT-A” – Ada emblem kecil di bagian belakang yang membedakannya.
- Spoiler belakang – Sama dengan GSR (single-decker yang lebih tinggi), tidak ada perubahan.
- Warna – GT-A tersedia dalam pilihan warna yang lebih “dewasa” Silver, Hitam, dan Biru metalik. Tidak ada warna merah menyala seperti TME.
Di interior, perbedaan paling mencolok adalah tuas transmisi otomatis dengan model lurus (bukan model zig-zag) dan paddle shift di belakang setir. Jok Recaro tetap dipertahankan, tapi pilihan warna interior sedikit lebih netral.
Kesan pertama melihat GT-A “Ini Evo untuk bos yang tidak mau repot.” Tapi jangan diremehkan. Bos ini tetap bisa menggebrak jika diperlukan.
Jantung 4G63 yang “Dikebiri” Sedikit, Tapi Masih Perkasa
Mesin masih 4G63 2.0 liter turbo, tapi dengan beberapa perubahan untuk mengakomodasi transmisi otomatis:
- Tenaga – 264 HP (turun 16 HP dari GSR manual yang 280 HP). Penurunan ini karena transmisi otomatis tidak bisa menahan torsi setinggi manual.
- Torsi – 343 Nm (turun dari 382 Nm). Penurunan yang cukup signifikan, tapi masih sangat besar untuk ukuran mobil sekelas Evo.
- Turbocharger – Masih TD05HR, tapi dengan peta ECU yang lebih kalem di putaran bawah.
- Pendinginan – Sistem pendinginan transmisi otomatis ditambahkan (oil cooler untuk ATF).
Hasilnya? Evo VII GT-A terasa lebih halus di putaran bawah, sangat ramah untuk penggunaan perkotaan. Di atas 4.000 rpm, tenaganya tetap mengalir deras, tapi tidak sekasar GSR manual.
Waktu 0-100 km/jam? Sekitar 6,2 detik – masih kencang untuk mobil tahun 2002, tapi jelas lebih lambat dari GSR manual yang 4,8 detik. Kecepatan maksimal sekitar 220 km/jam (dibatasi secara elektronik).
Yang menarik konsumsi bahan bakar GT-A sedikit lebih boros dibanding GSR manual karena efisiensi transmisi otomatis yang lebih rendah. Ironis, tapi ya sudah.
Transmisi INVECS-II 5-Speed dengan Paddle Shift
Inilah bintang utama GT-A Transmisi otomatis INVECS-II 5-percepatan dengan fitur paddle shift (kopeling di setir – model naik/turun seperti mobil balap).
Teknologi yang digunakan:
- Adaptive shift logic – Transmisi belajar dari kebiasaan mengemudi Anda. Jika Anda sering menginjak gas dalam-dalam, transmisi akan menahan gigi lebih lama sebelum naik. Jika Anda berkendara santai, transmisi akan naik ke gigi tinggi lebih cepat.
- Paddle shift – Anda bisa memindahkan gigi secara manual dengan sentuhan jari di setir. Tanpa kopling, tanpa repot.
- Mode sport – Ada tombol di tuas transmisi yang membuat respon throttle lebih agresif dan transmisi lebih lambat naik gigi.
Apakah transmisi ini sebaik transmisi manual? Tentu tidak. Responnya masih ada jeda (sekitar 0,5 detik) saat Anda menarik paddle. Tidak sekencang DSG atau dual-clutch modern. Tapi untuk tahun 2002, ini sudah sangat canggih.
Dan yang terpenting. Anda tidak perlu pusing menginjak kopling di kemacetan. Itu nilai plus yang sangat besar bagi mereka yang tinggal di kota besar.
Teknologi ACD Tetap, AYC dipertahankan
Kabar baiknya, GT-A tetap dilengkapi dengan:
- Active Center Differential (ACD) – Dengan tiga mode (Tarmac, Gravel, Snow) yang sama seperti GSR manual.
- Active Yaw Control (AYC) – Masih ada, masih bekerja dengan baik.
- Rem Brembo – Standar, sama seperti GSR.
- ABS dengan EBD – Standar.
Artinya, masalah handling bukanlah kompromi. GT-A tetap bisa diajak berbelok tajam, tetap stabil di kecepatan tinggi, dan tetap aman saat hujan.
Perbedaan hanya pada tenaga yang sedikit berkurang dan respon akselerasi yang sedikit lebih lambat karena transmisi otomatis.
Varian Hanya Satu, Itupun Terbatas
Tidak seperti GSR yang punya banyak pilihan opsional, GT-A hanya tersedia dalam satu varian standar dengan fitur lengkap:
- AC otomatis
- Power window semua pintu
- Jok Recaro (tetap, tidak ada pilihan jok biasa)
- Audio dengan 6 speaker
- Peredam suara lengkap (lebih tebal dari GSR untuk kenyamanan kabin)
Bobot GT-A sekitar 1.450 kg – lebih berat 50 kg dari GSR manual karena tambahan pendingin transmisi dan komponen otomatis.
Jumlah produksi GT-A sangat terbatas – diperkirakan kurang dari 1.000 unit untuk seluruh dunia. Sebagian besar dijual di pasar Jepang. Beberapa unit diekspor ke Eropa dan Australia, tapi sangat langka.
Penerimaan Publik Antara Cemoohan dan Pujian
Saat pertama kali diluncurkan, Evo VII GT-A dihujat habis-habisan oleh para penggemar setia Evo.
“Evo matik? Mending beli Civic!”
“Ini penghianatan terhadap sejarah!”
“Mitsubishi sudah gila.”
Tapi seiring waktu, pandangan mulai berubah. Para pengguna GT-A di Jepang memuji kenyamanannya untuk penggunaan harian. Mereka bilang “Saya tetap bisa merasakan sensasi Evo saat akhir pekan di pegunungan, tapi tidak pusing saat macet di hari Senin.”
Di pasar ekspor, GT-A kurang laku karena penggemar Evo di luar Jepang cenderung lebih puritan. Akibatnya, banyak unit GT-A yang dijual murah di lelang Jepang dan diekspor ke negara-negara seperti Selandia Baru, Inggris, dan Australia dengan harga yang relatif terjangkau.
Hari ini, GT-A mulai dilirik kolektor. Mengapa? Karena kelangkaannya. Banyak yang sudah dimodifikasi (transmisi manual swap) atau dibiarkan rusak. GT-A original dengan transmisi otomatis asli dan kondisi prima kini menjadi barang langka yang harganya mulai naik.
Apakah GT-A Layak Disebut “Evo Sejati”?
Ini pertanyaan filosofis yang selalu muncul setiap kali ada mobil performa dengan transmisi otomatis.
Menurut saya (dan ini murni opini pribadi), GT-A tetaplah Evo sejati. Mengapa?
- Sasis dan mesin – Sama persis dengan Evo VII GSR, hanya tenaga sedikit berkurang.
- Handling – ACD dan AYC tetap bekerja dengan baik.
- DNA Mitsubishi – Mobil ini tetap dibuat di pabrik yang sama, oleh tim insinyur yang sama.
- Tujuan yang berbeda – GT-A bukan untuk pembalap, tapi untuk penggemar Evo yang menginginkan kenyamanan ekstra.
Apakah GT-A sebaik GSR manual? Tidak. Apakah GT-A lebih nyaman? Ya. Apakah GT-A pantas dihargai sama seperti GSR manual? Tentu tidak, tapi ia memiliki tempatnya sendiri di hati kolektor yang menghargai keunikan.
Nah, para pembaca yang saya hormati (termasuk yang sedang menyembunyikan Evo GT-A di garasi karena takut di-bully).
Sampai jumpa di artikel berikutnya – Evo VIII, di mana Mitsubishi memperkenalkan teknologi MIVEC dan transmisi 6-percepatan untuk pertama kalinya. Siap-siap, karena era modern Evo segera datang!
Salam dari kemacetan Jakarta, di mana kaki kiri saya berterima kasih pada siapa pun yang menemukan paddle shift.